IBUKU, IBUKU, IBUKU
The Super Woman
Kami memanggilnya Mamah. Kalau bapak, Bapak. Mamah dari Balikpapan, Bapak dari Cianjur. Mamah berkulit gelap, Bapak putih. Dari delapan anak perempuan, enam diantaranya berkulit terang, sedangkan dua cenderung gelap. Saya termasuk yang berkulit terang walau gak terang-terang amat. Selama kuliah di Bandung, kulit semakin menerang, kinclong.
Kata seorang teman di Jombang begini: "Sampeyan mbiyen pas teko' Mbandung, buwening." Terjemahannya jadi : dulu sepulang dari Bandung, kamu bening. Artinya, saat dia bilang begitu, saya menggelap. Kenyataan itu divalidasi oleh salah satu teman kuliah yang berkunjung ke Jombang, saat saya hamil anak pertama.
Ia memandang saya dengan tatapan aneh, lalu bilang: "Mbak kok jadi gini?" Pertanyaan ini membuat saya galau sesaat. Oh, apakah saya berubah menjadi Hulk?
Kembali ke delapan bersaudara ini. Kakak nomor satu, putih, bening. Menurut saya dia paling terang. Paling pinter, paling tangguh dan teguh. Sejak kelas 4 SD sudah dipondokkan, hidup terpisah dari kami. SMP dan SMA di Asrama Khadijah Surabaya, kemudian ke UNPAD di Bandung. Sejak SD hingga SMA, prestasi akademiknya luar biasa. Dia juga menjadi ketua OSIS di SMA Khadijah.
Yang nomor dua, mantan penari, berkulit kuning langsat. Ketua OSIS pertama di SMA Negeri 1 Mojoagung, karena dia angkatan pertama di sana. Jadi, SMAN 1 Mojoagung baru berdiri tahun 1989. Kegiatannya banyak seputar menanam-nanam di taman, mempercantik sekolah yang masih lengang dan jarang pepohonan.
Yang ketiga, seornag penari masa SD dan hobi naik gunung ketika SMA. Eh sebenarnya bukan hobi, tapi dia ikut ekstrakurikuler pendakian di SMAN 2 Jombang. Setelah lulus SMA, Gontor Putri menjadi tujuan. Sebagai ketua OPPM (sejenis OSIS), namanya sangat populer. Menurutku dia paling beda. Kulitnya gelap. Hidungnya kecil mancung, berkebalikan dengan hidung saya yang seperti jambu air. Setiap saya berjalan dengannya di sekolah, teman-teman meledek saya. "Kakakmu cantik, kok kamu jelek!" Saya ketawa-ketawa saja, walau hati seperti dicubit. Karena sangat seringnya diguyoni begitu, lama-lama saya berusaha cuek. Jadi kebal kah? Tidak, sesekali ada rasa tak nyaman, tapi mau bagaimana lagi?
Keempat, saya.
Kelima, adek saya, juga penari di tingkat SD, lalu menjadi alumni SMKK jurusan tata boga. Urusan masak memasak, serahkan saja padanya. Rambutnya sering dikucir ekor kuda. Gaya berjalannya santai, klenak-klenuk. Pulang dari sekolah sering membawa makanan hasil praktik. Saya jadi tahu bagaimana rasa masakan India, Cina, Arab, ya, dari masakannya. Di Pondok Gontor Putri (selepas lulus SMKK), adik saya ini menjadi andalan urusan masak dan dapur di kegiatan-kegiatan pondok. Konon, sewaktu Mbak Tutut Suharto berkunjung, dia menjadi komandan utama. Siapa itu Mbak Tutut? Dia putri presiden kala itu yang punya power luar biasa. Kehadirannya di mana-mana selalu disambut meriah dan dielu-elukan.
Keenam, mantan penari juga, si paling anggun, yang mendahului kami wafat di tahun 2025. Kulitnya kuning langsat, tinggi, dan gerak geriknya halus. Ia alumni SMAN 2 dan melanjutkan ke Unair. Jangan tanya bagaimana kumbang-kumbang berusaha menarik perhatiannya. Saya dengar ada satu kost-kostan mahasiswa yang bertengkar gegara sama-sama jatuh cinta padanya. Kata seorang Kyai, dia ibarat bunga wangi. Ke mana pun pergi, kumbang akan mengamati, menunggui, dan mendekati.
Ketujuh, (lagi-lagi mantan penari ketika SD) alumni Gontor juga. Lulus dari SMP, dia langsung mondok. Sosok paling pendiam, paling tenang, paling terjaga. Saya bilang terjaga karena dia selalu berteman dengan perempuan saja hingga menikah. Proses pernikahannya juga luar biasa. Taaruf, cocok, melamar langsung menikah. Kami kagum dan takjub dengan cara Allah subhanahu wa ta'ala mengatur semuanya. MasyaaAllah.
Kedelapan, penari sejak TK hingga SD. Seperti nomor enam, ia berjilbab sejak SMP. Menjadi pioner di sekolahnya, satu-satunya yang berhijab lebar. Pinter, cantik, dan sangat tegas, alias agak galak. Namanya terpampang di vandel sekolah sebagai salah satu dari 10 besar nilai terbaik kelas paralel.
Bapak Patriarki
Bapak kami, maaf, patriarki, tapi bukan garis keras. Mamah mengurus delapan anaknya sendiri. Menengok nomor satu dan dua di pesantren, mengantar yang mondok ke Gontor, mengurusi yang di rumah, aktif di arisan sana arisan situ. Bapak fokus pada kerjaan. Siang hari kami harus tidur siang. Masuk kamar bersama, tentu saja kami tidak langsung tidur. Perang guling dan bantal, lempar-lemparan apa saja yang bisa dilempar, berteriak-teriak. Suara derum sepeda motor Bapak di gerbang rumah membuyarkan kelakuan kami. Serentak semua akan terbirit-birit melompat ke kasur, bergelung, pura-pura memejam mata, dan menahan napas. Bapak akan masuk, mengecek kaki kami, dan mengelapnya dengan kain basah jika telapak dianggap kotor. Siksaan terberatnya adalah bagaimana menahan diri supaya tidak tertawa kegelian karena kami sedang akting tidur. Bapak terus saja mengelap dan menggosok hingga usai. Saya curiga, jangan-jangan Bapak tahu kami berpura-pura lalu mengerjai kami dengan cara begitu.
Saya punya kenangan berlari-lari di halaman saat hujan bersama Bapak. Bapak melompat ke dalam bak untuk mandi dan wudhu di dekat sumur. Saat itu saya terkejut melihat Bapak yang tertawa, berteriak, melompat-lompat, adu cepat lari bersama kami. Sebab Bapak, di mata saya, sosok yang membuat segan. Lirikan matanya di meja makan kalau kami mengecap sampai bersuara, cukup bikin ciut. Tidak boleh ada suara mengecap, tidak boleh ada suara sendok beradu piring, dan sebagainya. saya baru mengerti kemudian, kenapa Bapak begitu. Sepertinya itu didikan Sekolah Kehutanan Menengah Atas atau SKMA yang menerapkan semi-militer.
Kenangan lainnya di pantai. Ketika di Prajekan, Situbondo, setidaknya sebulan sekali kami ke pantai Pasir Putih. Ada mess Perhutani di sana. Bermain bersama Bapak di laut itu sangat seru. Mamah jarang ikut sebab beliau menyiapkan serta menjaga perlengkapan dan konsumsi. Saya ingat berlari-lari ke pantai, lalu lari lagi ke mess untuk minta minum, minta kue, minta apa saja yang dibutuhkan pada Mamah. Bekal kami dibawa dalam rantang bersusun. Isinya mulai dari ayam goreng, telur goreng, tahu, tempe. Nasi dalam termos yang tutupnya diberi serbet. Minuman yang dibawa salah satunya adalah teh botol sosro sebanyak satu atau dua krat. Ini termasuk minuman elit dan berkelas saat itu. Buah-buahan melimpah. Semua pengalaman terekam sebagai previlege bagi kalangan menengah seperti kami.
Balada Anak Tengah
Kesibukan Mamah luar biasa. Nomor empat dan nomor lima diasuh oleh pembantu. Saya oleh Mbok Las, Tintin oleh Mbok Nas. Kami berdua minum susu pakai dot hingga TK. Yang paling saya ingat, Mbok Las menggendong pakai jarit. Saya didudukkan di depan perut, jarit diselempangkan lalu diikat. Setelah ikatan kuat, saya diputar ke belakang. Sambil memegang dot, saya nemplok di punggung Mbok Las. Mbok Las mencuci piring, menggosok-gosok dengan serabut kelapa sambil bergoyang-goyang. Tentu saya ikut goyang-goyang. Jika Mbok Nah melakukan sesuatu di sebelah, entah menyiapkan apa, maka saya dan Tintin (yang ada di punggung Mbok Nah) akan bercanda. Colek-colekan, cubit-cubit, ketawa-ketawa seru sementara duo nanny itu mengobrol.
Zaman dulu, hubungan atasan bawahan melibatkan para istri. Istri pimpinan adalah boss istri bawahan. Jika istri pimpinan ada acara, maka istri bawahan rempong luar biasa. Cucu pimpinan ulang tahun dan dirayakan dengan pesta besar, istri bawahan akan di rumah pimpinan satu dua hari menjelang acara. Jangan tanya kalau ada pesta pernikahan anak pimpinan. Nah, kalau Mamah punya gawe di rumah atasan, kami ditinggalkan di rumah. Karena sudah terbiasa, kami melewatinya dengan bermain, membaca, atau menonton televisi.
Ketika tiga kakak ke asrama Khadijah, dua anak terbesar di rumah adalah saya dan Tintin. Tugas tak tertulis: momong adek-adek yang masih kecil. Ada titik di mana saya merasa bahwa menjadi anak tengah itu cenderung diabaikan. Bukan secara sengaja, tetapi karena keadaan yang membuatnya begini. Bayangkan, delapan bersaudara, tiga terbesar tinggal di asrama, dan masih ada 5 anak di rumah. Yang di asrama mendapat perhatian lebih. Jika pulang, apa saja yang diminta akan dikabulkan. Kami sering membisiki kakak-kakak yang pulang berlibur di rumah agar minta bakso, es campur, atau makanan minuman lain yang sulit dipenuhi di hari-hari biasa, ketika mereka tak ada. Selain yang di asrama, perhatian lebih juga diberikan pada dua adik terkecil. Bagaimana dengan nomor 6? Dia mendapat perhatian lebih karena kelebihannya: cantik, putih, pipi nyempluk, lembut, luwes, dan halu perangainya. Kanak-kanak barbar macam saya, yang kurus, tidak cantik, hidung jambu, skip. Bhahaha.
Sependek ingatan, tampaknya saya sibuk sekali masa-masa itu. Berjibaku dengan masalah saya di rumah, di sekolah, dan memilih memendamnya sendiri. Sibuk dengan dunia sendiri: imajinasi dan buku bacaan. Mamah dan Bapak menghujani kami dengan majalah Bobo, si Kuncung, Kawanku, Hai, Intisari, Femina, Kartini, Amanah, Panji Masyarakat, Penjebar semangat, Detik (majalah kriminal, ahahaha), dll. Bacaan-bacaan itu yang memenuhi imajinasi saya. Usia SD, saya kenal istilah rekonstruksi, alibi, modus. KUHAP, pledoi, jaksa penuntut umum, vonis. Nama Slamet Soeseno, JS Badudu, Jakoeb Oetama, H.O.K Tanzil akrab di mata. Di majalah Panji Masyarakat, tulisan Hamka sering saya lahap. Apakah saya mengerti semuany? Tentu tidak. Yang penting dibaca, dikunyah-kunyah pikiran, simpan di otak.
Mamah menyimpan majalah Bobo dalam peti yang cukup besar dan dalam bagi anak kecil usia kelas satu dan dua SD. Saya harus berjinjit untuk menjangkau bagian tengah. Majalah-majalah Bobo dan lainnya menumpuk rapi. Peti itu saya buka tutup, mengambil dan mengembalikan isinya. Tidak ada rekaman ingatan di kepala saya, aktifitas membaca bersama Mamah dan Bapak. Mereka berdua sediakan, sajikan, dan simpan. Di saat itu pula, Bapak dan Mamah membelikan ensiklopedi mahal dari seorang pendeta. Ada 12 jilid, mulai dari tanaman, binatang, ikan, cuaca, matematika, waktu senggang, dll. Buku mahal itu saya lahap. Tokoh ilmu pengetahuan diceritakan dengan gambar-gambar menarik. Saya paling terkesan dengan gambar Archimedes yang mandi berendam dalam bak mandi dengan air sebatas pundak. Bagian teriakan 'Eureka' sembari berlari sungguh mengesankan. Juga saat dia berteriak "Jangan injak lingkaranku!" sebelum dibunuh, bikin saya patah hati. Aih, dramatisnya akuh!
Paling Merepotkan
Di antara delapan bersaudara, sepertinya saya yang paling merepotkan. Dalam arti yang sebenarnya, demikian adanya. Konon, menurut cerita Mamah, sejak lahir, di pangkal hidung dekat alis, ada benjolan kecil. Dokter menyatakan itu tumor yang harus diberi tindakan supaya tidak membesar. Bukan dengan operasi karena saya masih bayi sekali. Tindakan yang diambil adalah disinar, atau radioterapi agar tumor tidak berkembang. Maka, setiap Senin, Mamah membawa bayi kecil mungil itu ke Surabaya, yaitu ke Rumah Sakit Karangmenjangan atau RSUD Dr. Soetomo. Mamah berangkat sendiri, naik bus dari kecamatan Prajekan, Kabupaten Situbondo. Perjalanan panjang itu dilalui bersama saya yang (menurut cerita) sering menangis kehausan. Mamah tidak menyusui atau memberi minum karena saya bayi harus puasa sejak malam. Di rumah sakit, Mamah masih harus antre bersama bayi-bayi lain yang punya penderitaan serupa.
Satu bagian paling disukai Mamah yaitu ketika nyaris kecopetan. Entah di mana, Mamah menggendong saya, berjalan kaki sambil menenteng tas. Seorang laki-laki membuntuti. Dompet di tas tenteng itu nyaris diambil. Entah siapa yang menolong Mamah saat itu hingga dompet aman dari niat jahat pencopet.
Entah mengapa, setiap Mamah menceritakan masa pengobatan, jauh di dalam lubuk hati, saya ketakutan. Karena kemarahan Mamah terasa dalam dan tajam. Sepertinya bukan pada saya, melainkan pada Bapak. Salah satu bagian yang sering diulang-ulang yaitu ketika atasan Bapak heran kenapa Mamah harus berangkat sendiri tanpa ditemani Bapak. Dari Prajekan, Bondowoso ke Surabaya bukan jarak yang pendek. Menggendong bayi yang rewel sendirian, sembari membawa tas berisi perlengkapan, lalu antre lama, dan kembali lagi ke rumah, tentu sangat melelahkan. Ketika kecil, saya terdiam setiap kali Mamah menceritakannya dengan berapi-api, dengan penekanan kalimat di sana-sini kepada tamu-tamu atau teman-temannya. Saya menutupinya dengan bersikap cuek, seolah-olah tak peduli. Saat remaja dan dewasa, saya ada di mode yang sama pada waktu kisah itu diceritakan kembali kepada teman-teman.
Sampai kini, diam-diam hati saya mengerut, merasa tak berdaya, tak berguna, manakala terngiang-ngiang cerita itu. Mamah, ibu saya, sudah melakukan pengorbanan yang begitu besar untuk membesarkan saya. Dan saya merasa gagal, setiap kali menyadari saya belum membalasnya secara layak.
Mamah adalah ibuku, ibuku, ibuku. Tiga kali disebutkan secara mulia, dan berkali-kali pula saya merasa gagal mengimbanginya.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala membalas seluruh kasih sayang dan kebaikannya dengan surga yang indah. Allahumma aamiin.




Love it.
BalasHapusThank you. MasyaaAllah
Hapus