SILENT MOVE

Kamis, Juli 16, 2026

     Rabu, 15 Juli 2026. 

    Hari kedua mengajar ini dimulai dengan pagi yang seru. Rabu dan Kamis full, padat jam mengajar. Saya berangkat dalam keadaan belum sarapan. Di punggung ada tas ransel berisi laptop, di tangan kanan kiri ada 2 tas. Tas pertama, berwarna merah, berukuran kecil. Isinya minuman es coklat susu dan air putih. Tas kedua, berwarna putih, berisi semangkuk ubi cilembu dan sebiji jambu kristal beserta pisaunya. 

    Sebelum berangkat ke sekolah, saya harus ke kolam renang  Jambu untuk mengantar Zaif. Di gang IV Patimura, ada seorang anak lelaki berjalan. Ia memakai kaus olah raga Ar Ruhul Jadid.

"Itu kakak kelas," kata Zaif.

"Ke kolam juga? Kita ajak bareng, ya? Kasihan kalau jalan, cukup jauh," kata saya.

":Lho, dia kelas enam. Yang ke kolam renang cuma kelas tiga dan empat saja," terang Zaif. 

    Saya mengurungkan niat berhenti untuk memberinya tumpangan. Tiba di depan kolam renang, tiba-tiba Zaif berkata, "Lho, ada kakak kelas enam!"
    Aduh, saya menyesal sekali tidak jadi memberi anak tadi tumpangan. Hendak kembali, saya tidak tahu jalur mana yang ditempuhnya. Apalagi waktu sudah menunjukkan  lebih dari setengah tujuh pagi. Jalan Patimura pasti sangat padat merayap. Saya khawatir terlambat sampai sekolah. 

    Saya tiba di sekolah pukul 06.45. Masih ada waktu untuk sarapan ubi cilembu. Sambil mengobrol dengan Mamak dan Bu Aini, saya menyantap ubi pelan-pelan. 

    "Aku punya game," kata saya. "Begini caranya: anak-anak diminta menulis di buku tulis mereka, apa prioritas hidup mereka sekarang. Jelaskan mengapa penting dan apa hambatannya. Setelah selesai menulis, mereka berdiri, tanpa membawa buku. Hanya bawa bolpoin atau stipo. . Pada aba-aba yang disepakati, semua anak harus berpindah dari tempat dia duduk ke meja lain. Pilih secara acak, tidak usah direncanakan ingin ke sana, ke anak itu, dan sebagainya Mereka duduk di kursi tersebut dan mulai membaca tulisan pemilik meja. Setelah memahami, berikan saran. Langkah berikutnya sama, berpindah lagi ke meja lain. Begitu terus sampai dihentikan oleh guru. Setelah putaran selesai, semua kembali ke meja dan kursi semula. Di sesi ini, mereka membaca saran dan komentar teman-teman yang singgah di mejanya."


                                                  


    Mamak dan Bu Aini bersepakat ikut mempraktikkan permainan yang sama. Tepat jam tujuh, saya masuk ke kelas XII AK 4. Ritual hadir  di kelas baru adalah perkenalan. Satu per satu saya panggil namanya. Mereka sebutkan nama kecil atau panggilan dan arti namanya. Bagian akhir, menyebutkan arti nama, kebanyakan menjawab dengan: "Sorry, I don't know!"

    Tiba waktu permainan. Instruksi diberikan bertahap. Di awal perintah, saya meminta mereka menuliskan apa prioritas hidup saat ini dan apa kendala mencapai prioritas itu. Mereka punya 15 menit untuk menulis. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengapa dan untuk apa tulisan itu. 

    Habis waktu, saya minta mereka berdiri. Penjelasan berikutnya membuat mereka terkejut kemudian senyum-senyum. 

    "Tidak boleh membuka buku untuk membaca kecuali semua peserta sudah dapat tempat duduk. Tunggu aba-aba dari saya."

   Begitulah. Mereka patuh dengan aturan main dan tertib.  Momen berpindah, membuka buku, membaca, lalu menulis, sepertinya mereka nikmati betul. Suasana tenang terkendali. Proses pindah terjadi sekitar 5x. Itu artinya, mereka telah membaca dan memberi saran di 5 buku. Sebaliknya, sebagai pemilik buku, mereka telah mendapatkan saran, motivasi,  dan nasihat dari 5 teman.


Menulis prioritas hidup di buku masing-masing.



Proses berpindah ke meja lain.


Menyimak saran dan nasihat di buku masing-masing.

    Tiba saat kembali ke tempat duduk masing-masing. Wajah-wajah penasaran, gugup, sumringah, berjajar di hadapan saya. Ketika diizinkan membuka dan membaca buku mereka, reaksinya macam-macam. Ada yang tertawa kecil, senyum-senyum sendiri, atau menutup sebagian wajah pakai tangan atau kain jilbabnya. Saya mengundang satu dua anak untuk menyampaikan kesan atau apa pun berkaitan pengalaman ini. 

    Yang bicara, suaranya sesekali tersendat. Ia terharu, mengucapkan terima kasih atas semua tulisan yang memotivasinya. 


                                       

                                     Menyampaikan kesan dan ucapan terima kasih. 


    Saya ikut terharu sekaligus senang. Pesan dan saran dari teman sebaya mungkin lebih bisa diterima ketimbang nasihat panjang lebar dari guru atau orang tua. Bukan hendak mengecilkan kedua sosok itu. Secara psikologis, orang yang dianggap berada di posisi yang sama dianggap lebih tahu 'apa yang dirasakan' dan dipikirkan.

    "Bun, di kelasku nangis. Aku juga ikut menangis," cerita Bu Aini.

    Tiap kelas punya respon masing-masing. Katanya, ada yang menangis sambil tertawa gegara teman-temannya men-'cie-cie' siapa saja yang menangis. Jadinya, bukan mengharu biru, tapi malah terkekeh bersama. 

    Apa pun, semoga silent move ini membekaskan silent-happines di hati mereka. Melalui tulisan teman-teman, mereka merasa diterima, didengar, dan didukung. 


Stay cool, students!

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.