TEMPAT DAN TABIAT

Selasa, Januari 20, 2026

     Najma dan teman-teman perempuannya, angkatan 7 SMPIT Ar Ruhul Jadid, berkumpul di kafe Maroone. Angkatan 7 putri ini menamai dirinya Geju, Generasi Tujuh. Setiap libur kuliah, ada saja pertemuan mereka buat. Tidak hanya Najma, Zahra pun demikian. Hari ini ketemu sama teman-teman SMADA, besok dengan geng anu, beosk lagi dengan teman-teman itu. Jadwal mereka padat merayap, di sela-sela balas dendam tidur yang panjang.

    Kembali pada Najma.

    Tiba-tiba siang itu, dia kirim pesan di grup: "Geju mau geser ke rumah, yah. Kita pake atas yah, mau nobar." Tulisannya diakhiri emot  sosok putih bermata lebar yang nyengir. 

    Saya jawab, "Boleeeeee."

    Sore hari setelah Ashar, mereka datang. Berderet-deret sepeda motor diparkir di teras samping. Para gadus ini  langsung naik ke lantai dua, di mana smart tv diletakkan. Saya kirim pesan ke Najma, minta foto  bersama. Bukan untuk apa-apa, saya senang lihat kekompakan mereka. Awet  sejak SMP.

    Kelas mereka isinya cewek semua. Rata-rata anak pintar dan kritis. Mereka berani memberikan argumen jika dirasa ada yang kurang sesuai. Entah kenapa, satu dua guru yang saya kenal justru menganggap kelas mereka sulit, bermasalah, dan tukang protes. 

   Bagi saya, mereka anak-anak potensial. Berbincang dengan mereka sebenarnya gampang, dengarkan validasi, dan perkaya insight mereka dengan wawasan tambahan. Sebab pintar, anak-anak itu tak mudah menerima doktrin begitu saja. Perlu penjelasan logis yang memenuhi kebutuhan akal mereka.

    Balik lagi ke foto. Najma mengirimnya. Saya melototi foto itu, mencoba mengingat satu per satu. Anak-anak ini sudah menjelma jadi perempuan muda yang cantik-cantik, modis, periang, dan tampak optimis. Saya turut gembira melihat ekspresi sumringah di foto itu.

    Malam hari, seusai mereka pulang, Najma bercerita. Intinya begini:

    "Aku bilang sama teman-teman, Bundaku minta foto. Terus aku bilang juga, biasanya Bundaku bilang gini: 'Kirim ke Ustaz Supri, ah.' Mereka langsung ribut, lihat foto sambil komentar: 'Kerudungku nutup leher dan dada gak?' Ada yang bilang; 'Ya ampun kerudungku gitu!' Kata mereka, kalau mau ke ARJ, mereka ganti style, gak pakai celana panjang, ganti pakai rok. Ada juga yang cerita, datang ke ARJ, terus jilbabnya dibenerin sama Ustazah. Eh ya, kemarin juga ada yang bilang, 'Waduh, kalau ke Abata, aku gak bisa mengumpat!'"

    Oh ya, Abata itu sebutan bagi rumah kami. Ustaz Supri adalah orang Yayasan SMPIT yang dulu pernah mengajar mereka. Saya dan Ustaz Supri kadang berdiskusi tentang satu dua hal.

    Saya geli mendengar semuanya. Mereka sudah berubah gaya, sebagian jilbab tidak menutup dada. Namun mereka menyesuaikan diri manakala berkunjung ke SMPIT ARJ, almamater.Ungkapan 'Jika di Abata tidak bisa mengumpat' juga terasa lucu. Mereka memahami value sebuah tempat dan berusaha beradaptasi dengannya.




    Setiap tempat punya tabiat.

    Rasanya ungkapan itu tepat sekali. Saya jadi ingat murid saya yang diajak hadiri acara seminar sebuah komunitas. Sebagian besar anggota komunitas ini berhijab lebar, memakai rok atau gamis. 

    "Bunda, saya malu pakai celana panjang," katanya sambil menunjuk celana panjang hitamnya.

    "Gak papa, gak ada yang menyoal itu kok, tenang saja," hibur saya.

    Tetap saja dia tampak kurang nyaman,mungkin merasa salah kostum dan tidak sama dengan sekeliling.

    Kembali pada tempat dan tabiat. Kebiasaan yang ada pada suatu tempat atau lokasi akan membentuk budaya. Kadang tidak perlu tinggal lama di situ, cukup melihat sosok penghuninya, bisa menjadi informasi awal bagaimana karakter dan tabiat tempat itu.

    Seperti SMPIT ARJ. Para alumni paham value apa yang ditegakkan di sana. Mereka mengerti bagaimana standar hijab yang digunakan, bagaimana pola interaksi dengan lawan jenis, bagaimana model narasinya yang khas. Ketika mereka sudah lulus, melanglang buana, dan menjadi berbeda, kemudian harus berkunjung ke almamater, terjadi penyesuaian kembali. Style hijab dibuat mendekati standar SMPIT, cara berbicara, dan lain-lain. Bahkan jika di luar hubungan alumni putra dan putri demikian cair, di dalam SMPIT mereka cenderung jaim.

    Saya yakin itu bukan berarti mereka jadi bunglon. Seorang ustazah memberi makna begini: adaptasi itu dilakukan karena rasa hormat yang tinggi terhadap tempat dan orang-orangnya. 

    Saya setuju sekali. Para alumni itu menempatkan almamater pada tempat yang tinggi, sehingga ketika dirasa tampilan atau sikap mereka tidak sesuai, proses adaptasi itu dilakukan. Kabar baiknya, jauh di dalam hati, mereka mengetahui ini yang benar dan mereka berusaha memenuhinya sebagai bentuk rasa hormat dan memuliakan.

    Sama dengan celetukan 'Di Abata aku gak bisa mengumpat'. Jika dia mau, los sajalah mengumpat sebagaimana dia bebas mengumpat di luar. Namun karena dia mengetahui value rumah dari karakter penghuninya, dia menahan diri dan beradaptasi agar selaras. Usaha ini layak diapresiasi. Setidaknya, pada tempat-tempat tertentu, mereka kembali ke fitrahnya yang lurus. 

    Jadi ingat beberapa tahun lalu, ketika Najma SMA. Saat Ramadhan, teman-teman sekelasnya adakan acara berbuka. Salah satu opsi tempat adalah di rumah kami. Kami mengizinkan dengan syarat tertentu. Pertama, jika tiba waktu salat, laki-laki harus ke masjid semua. Kedua, jaga ucapan dan sikap. Ketiga, tidak ada acara karaoke. Akhirnya tempat berpindah. Konon salah satu ada yang beralasan: 'Kita kan tahu gimana keluarga Najma, awake dewe sungkan...'

    Jadi, setiap tempat memang punya tabiat. Para penghuni di dalamnya yang secara sadar atau tidak sadar membentuk tabiat tersebut. Value rumah akan terbaca dan dipahami orang-orang sekitarnya.

    Rumahmu, apakah tabiat yang memancar darinya?

1 komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.