MURID MENIKAH, GURU MENUA

Senin, Januari 19, 2026

 

Saya lupa hari dan tanggal berapa saat itu, ketika kami menemukan undangan tergantung di gerbang pagar.  Rumah memang sedang sepi, anak-anak ke Bandung. Kami berdua baru saja tiba dari bermotor ria. 

    "Undangan siapa ini?" Saya mengamati nama pengantin. Nama kedua mempelai tidak saya kenal, tidak saya ingat, tepatnya.

    "Bu Weni? Bu dokter gigi itu? Eh, Rozan ya?" 

    Saya kembali mengamati nama mempelai putra. Oh ya, Rozan, murid di SDIT Ar Ruhul Jadid dahulu, teman sekelas Nabila. Saya mengenal keluarga ini. Bu Weni adalah Ibu yang sangat peduli dengan kompetensi anak-anaknya. Rozan anak paling pintar di kelas. Ia pendiam dan tenang.  Adik Rozan namanya Aziz. Sama halnya Rozan, dia pintar, sering mengikuti olimpiade matematika dan beberapa kali dibimbing Mas Budi. Yang paling kecil, perempuan, dipanggil Eva. 

    Rozan kuliah di ITB. Sejak lulus SD, rasanya saya nyaris tidak pernah bertemu lagi dengannya. Ketika teman-temannya berkunjung ke rumah saya di momen lebaran, sependek ingatan, Rozan juga tidak turut serta. 

    Maka siang tadi, saya membayangkan akan bertemu sosok Rozan sebagaimana ingatan dahulu: sosok yang gemuk, pemalu, dan pendiam.

    Kami sampai di lokasi, yaitu hotel Fatma, sekitar pukul 11.15 WIB. Sudah ada beberapa tamu di tempat parkir. 

Gedung Fatma ini sebenarnya agak sempit, dari trotoar langsung pintu masuk. Bagian trotoar diberi tenda dan kain pembatas. Jika kami naik ke trotoar, langsung ke mulut lorong. Rozan dan istri berdiri menghadap barat, membelakangi kami. Suara pembawa acara memandu acara terdengar sampai luar.Sepertinya para orang tua sudha berjalan memasuki ruang utama.

    Kami berdiri di tepi jalan. Benar-benar di tepi jalan, karena trotoar nyaris ditutup habis oleh tenda. Hanya tersisa sekitar satu meter persegi di ujung. Suatu waktu, Rozan menoleh. Mas Budi melambai. Perlu waktu sekian detik bagi pengantin mengenali kami. Rozan menunduk takzim sambil menangkup tangannya di dada.

     "Ayo ajak Rozan selfi, mumpung belum jalan," kata Mas Budi. 




    Kami mendekat, Rozan melihat dan menyalami Mas Budi. Kami berfoto bersama dulu, mumpung pembawa acara belum memanggilnya. Setelahnya kami ngobrol sejenak sampai mereka berjalan masuk. 

    "Monggo," kata salah satu anggota WO. Kami disilahkan mengisi buku tamu. 

    "Silahkan di sini, Bapak Ibu," katanya lagi. Kami berdiri di depan pintu masuk sebagai tamu pertama yang akan diarahkan ke ruang resepsi. Tirai hitam di ambang pintu ditutup. Petugas WO berdiri, menunggu aba-aba. 

    Sekitar lima menit kemudian, kami diizinkan masuk. Perlu menunggu lagi sebelum akhirnya bisa naik ke panggung untuk menyalami pengantin. Bu Weni memeluk erat saya sambil berbisik: "Pengantin dirias Eva, Ustazah. Semua yang merias Eva."

    Eva adalah putri bungsu, perempuan satu-satunya. Tidak seperti kedua kakaknya yang suka pelajaran eksak, Eva lebih cenderung ke bakat seni. Ia menjadi perias pengantin, sebagai MUA. Kebanggaan Bu Weni sangat terasa, dan saya turut gembira mendengarnya.

    Turun dari panggung, kami bertemu Aziz. Putra kedua Bu Weni ini sedang menempuh kuliah di kedokteran. Ia mengarahkan kami ke ruang keluarga, di sisi timur. Hanya sebentar duduk di sana, karena sungkan dengan pihak keluarga, kami pindah ke sisi tamu. 

    Ada banyak dokter hadir. Sebagian kecil saya kenal, tapi tidak berani menyapa. Kenal sudah lama, tentu saya tidak yakin mereka masih mengingat saya. Ada Bu Luluk dan Mbak Muthi. Saya sempat meintanya berfoto bersama dengan latar panggung. 



Ketika saya unggah foto bersama Bu Luluk di story WA, ada yang repost dengan caption: jika murid menikah, itu tanda gurunya sudah tua.

    Eh., benar sekali. Saya berkaca dan menemukan kerut-kerut di ujung mata. Biar kata orang saya awet muda, tanda-tanda tua tetap tak terbantahkan. Selamat berkumpul, kerut-kerut!

 

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.