AKU KIRA AKAN MELANGGAR

Rabu, Januari 07, 2026

     Suatu pagi, beberapa hari lalu, saya diantar Zahra ke sekolah. Sepeda motor saya akan dipakai Zahra untuk satu keperluan. Sekian belas meter menjelang perempatan, lampu lalu lintas berkedip-kedip kuning. Tepat saat saya merem di batas marka, lampu menjadi merah. 

    "Sebenarnya Bunda masih bisa terus tadi, baru saja merah.  Aku kira akan melanggar," kata Zahra sambil tertawa kecil.  Saya ikut tertawa. 

    Jadi ingat waktu saya masih mondar mandir jadi mama ojek bagi Najma, Zahra, dan Hafidz. Satu kesempatan, saya melaju. Di tikungan yang sama, saya belok kiri saat lampu baru menjadi merah dua detik sebelumnya. 

    "Aku sudah mengira Bunda akan terus!" seru Zahra (Zahra lagi!). 

    Saya tertohok, saat itu. Selama  diantar sekolah, pasti anak-anak  sudah merekam dan mengakumulasi pengalaman berkendara bersama saya. Walau hati kecil berbisik 'gak selalu gitu kok!', komentar anak kecil saya anggap sebagai  komentar jujur dan bening. Jadi hati kecil saya muncul malu karena tidak tertib.

    Kali lain, saya dan anak-anak berlibur. Kami tengah duduk di ruang tunggu bandara Juanda, sekitar tiga puluhan menit menjelang boarding. Saya dan Najma kemudian ke kamar mandi. Saat itu, jika hendak masuk ruang duduk itu lagi, kami harus melalui pemeriksaan kembali. Tidak seperti sekarang, di mana pemeriksaan dilakukan jauh di luar semua gate sehingga leluasa ke kamar mandi tanpa perlu pemeriksaan kembali.

    Ketika saya kembali ke depan ruang tunggu, antrian sudah mengular, panjang sekali. Hingga sekian belas menit, posisi saya baru bergerak sedikit. Saya cemas, jangan-jangan tidak bisa boarding tepat waktu. Kecemasan ini memicu katrok, nekat, dan muka tembok muncul. Saya maju, menuju meja pemeriksaan sambil bilang: "Sebentar lagi saya boarding, Pak." 

    Di belakang saya, seorang wanita muda berteriak : "Antriii, Buuu!"

    Najma berdiri takut-takut di sebelah saya. Si Bapak petugas melirik saya dengan pandangan mencela, kemudian bilang, "Lain kali antri, Bu!"

    Saya merasa kepalang basah. Malu, tengsin, tapi segera lari ke dalam. Beberapa saat kemudian, kami  boarding. Najma bertanya, "Bunda dengar Ibu tadi?"

    "Dengar." Saya menjawabnya dengan hati yang maluuuu sekali. Ini emak macam apa, memberi contoh yang buruk pada anak-anak. Saya yakin, hati kecil Najma juga memprotes itu. 

    Kejadian itu, pelanggaran-pelanggaran kecil (yang sebenarnya besar, bukan?) yang dipotret anak-anak, menjadi koleksi 'teladan-gelap'  di memori mereka. Rasa malu itu masih terasa hingga sekarang dan menuliskan ini semoga jadi bahan renungan bagi orang tua lainnya.


Foto koleksi pribadi


    Nah, perkara pelanggaran ini masih ada sambungan cerita. Suatu waktu, Najma kirim percakapan di WA. 

'Ges, aku kejebak palang kereta. Aku sudah terlanjur maju, palangnya turun.'

    Sesampainya di rumah, Najma menceritakan ulang bagaimana hal demikian terjadi. Saya   membayangkan dia jadi tontonan para pengendara dari dua arah. Karena ini jalan besar, jarak rel dan palang cukup jauh. Jadi Najma ada di titik aman, alhamdulillah. Apalagi ini rel ganda, posisi kereta ada di jalur sebelah sana. 

    Nah (lagi!), suatu waktu, saya melaju  di jalan Wachid Hasyim, ke arah selatan. Rel kereta juga ganda dan jarak palang ke rel cukup jauh. Ketika saya maju, palang belakang masih belum menutup. Namun, tepat ketika saya hendak mencapai jalan seberang, palang di depan menurun cepat. Jadilah saya membelakangi rel, dan berhenti tepat di depan palang. Alhamdulillah, kereta tidak melewati rel belakang saya, melainkan yang seberang.

    Saya tengsin berat. Kaca helm saya turunkan (alhamdulillah warna gelap), saya banyak menunduk. Seorang bapak (sepertinya biasa mangkal di halte selatan rel), tersenyum sambil bilang, "Situ aja, Mbak, aman kok, wes anteng sek."

    Saya tersenyum kecut. Aduh, kenapa juga tidak  sabaran begini. Jadi tahu deh, bagaimana rasanya  menunggu sepenuh tengsin,   sementara di hadapan saya berjajar sepeda motor. Alhamdulillah tidak ada yang menfoto dan mengabadikan momen ini sebagaimana yang dialami seorang ibu muda ketika berada di bagian dalam palang. Ia menjadi viral hingga perlu melakukan klarifikasi langsung. Setelah klarifikasi dilakukan, berita dan foto itu diturunkan.  

    Pelanggaran itu terasa konyol, sekarang. Kalau mau dicari-cari tentu ada saja alasan pembenaran. Semakin dicari alasan logis, semakin terasa aneh dan asing. Hati kecil sebenarnya sangat paham dengan apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan. Jadi saat alasan-alasan diungkap, ya garing  begitu. Ini dalam kasus saya lho, ya, bukan yang diceritakan di atas. 

    Saya tahu saya terburu-buru, saya tahu saya keliru, itu cukup. Semoga tidak terulang lagi begitu. Semoga tak lagi terjebak spekulasi 'masih nutut, kok' sejenis!

1 komentar:

  1. Sahabatku ini emang kereeen.. dan hebattt.. Ibu Miaaaa... Ai lop yuu.. Semoga makin sukses, kawans...

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.