IBU YANG MARAH TERUS
"Siapa yang ibunya marah-marah terus?"
Pertanyaan saya itu, di beberapa kelas, direspon dengan tangan-tangan yang mengacung tinggi. Hampir semua murid. Satu dua saja yang tidak.
"Kenapa dimarahi?"
Macam-macamlah jawabannya. Karena dianggap tidak membantu di urusan pekerjaan rumah, misalnya. Dianggap mengganggu adiknya. Dianggap main hape terus. Dianggap tidak belajar. Daftar lain masih panjang, saya lupa.
Jawaban mereka itu menjadi bahan refleksi diri saya sendiri. Jadi berpikir dan mengingat-ingat, seberapa sering saya mengomel dan memarahi? Apa saja penyebabnya? Bagaimana respon anak-anak saya saat itu? Apakah omelan saya itu efektif mengubah mereka?

https://pixabay.com/id/vectors/pixel-sel-pixel-untuk-mempelajari-3674122/
Dari Murid yang Berpacaran
Saya mau bercerita satu kejadian yang berhubungan dengan omelan dan kemarahan emak-emak.
Suatu waktu, dalam rentang waktu kegiatan P5 (Penguatan Profil Pelajar Pancasila), seorang guru BK melaporkan bahwa ada sepasang siswa siswi yang berpacaran di kelas. Sang ibu guru mendapatkan kiriman video dari siswa lain. Konon katanya mereka berciuman. Dari video yang ditunjukkan, tuduhan berciuman tidak tertangkap jelas.
"Boleh saya panggil mereka, Bu? Saya tangani dulu, nanti saya lapor Ibu untuk tindak lanjut berikutnya," pinta saya pada beliau. Alhamdulillah beliau setuju.
Kenapa saya tangani langsung? Pertama, saya koordinator kegiatan P5. Seluruh rangkaian proses pembelajaran sudah dirancang sedemikian rupa agar anak-anak aktif. Pengawasn dilakukan oleh guru mata pelajaran seperti biasanya. Nah, kalau ada kesempatan demikian, bisa jadi saat itu guru mapel tidak hadir di kelas. Jadi, saya berharap, dengan menindaklanjuti kasus ini, saya bisa mendapatkan dua hal sekaligus.
Pertama, perihal kejadian berpacaran itu. Kedua, menjajaki situasi yang membuat kasus terjadi. Ini akan menjadi bahan evaluasi bagi saya dan tim agar masalah ini tidak terulang.
Jadi, bagaimana?
Ya saya panggil mereka bergantian. Pertama, siswi dulu. Saya diberi bilik konsul khusus di sudut ruang BK.
Cewek berkulit gelap ini tampak manis dan mungil. Dia duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Sebut saja namanya Yuli.
"Kakak tahu kenapa saya panggil?" tanya saya.
"Tidak, Bu." Dia menjawab takut-takut.
Saya ceritakan tentang laporan yang masuk. Dia diam, memandang saya lekat-lekat.
"Sekarang saya tanya, benar Kakak pacaran dengannya?" Dia mengangguk. "Boleh tahu, kenapa dengan dia? Karena dia anak pintar? Anak baik?" Dia menggeleng.\
"Lalu, apa yang membuat kamu mengambil keputusan berpacaran dengannya?"
"Itu Bu, awalnya cuma dekat saja, sering mengobrol. Lama-lama saya nyaman. Saya bisa cerita-cerita sama dia."
"Emang sama yang lain kamu gak bisa cerita-cerita?" Dia menggeleng. "Di rumah? Dengan Ibu?" Dia menggeleng lagi.
"Ibu di rumah marah-marah terus, Bu. Saya sumpek," bisiknya. Lalu ia mulai menangis sesenggukan.
Saya tidak tahu, apakah menangisnya karena ingat Ibu yang marah-marah terus atau menangis karena takut berhadapan dengan saya. Saya fokus pada kalimat "IBu marah-marah terus". Saya ingat diri sendiri.
Ingat dengan rutinitas pagi setiap hari.
"Ayo segera bersiap!"
"Astgahfirullah, masih duduk aja di kamar. Ndang masuk kemar mandi!"
"Bereskan kamar, sapu lantainya!"
"Ya Allah, kenapa gak dicari kaus kakinya dari kemarin! Bunda gak tahu di mana kaus kaki itu! Setelah dicuci disimpan di mana?"
Itu orkestra pagi hari. Sore hari sampai malam beda lagi.
"Sudah mandi sore? Segera mandi. Itu baju kotor masukkan ember belakang."
"Mau maghrib, ayo bersiap!"\
Dan seterusnya.
Mengajak Mengobrol
Waktu mengobrol memang krusial. Melalui mengobrol, ada kesempatan mendengar, menangkap kegelisahan, kegembiraan, suka cita, harapan, kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain. Dengan syarat, mengobrol yang intensif dan dua arah, katanya begitu.
Saya merasakan tidak mudah menciptakan momen itu. Sesekali kesibukan jadi alasan. PAdahal yang sebenarnya, tidak ada istilah 'kesibukan', yang ada 'tidak menjadi prioritas'.
Kisah siswi yang saya ajak bicara itu menjadi pengingat keras bagi saya, punya anak usia SMP dan SMA memang membutuhkan perhatian ekstra. Terutama bagaimana menjadi teman bicara yang asyik dan seru, sekaligus menginspirasi, memotivasi, dan menguatkan nilai.
Rasanya saya harus banyak berbenah.


Tidak ada komentar: