ORANG TUA YANG MENYANGKAL

Selasa, Januari 06, 2026

 Suatu pagi, seorang teman bercerita di ruangannya. Saya gambarkan secara umum lewat cerita di bawah ini. Bismillah, penceritaan secara bebas, dengan tidak meninggalkan esensi poin besar dalam kisah itu. 

"Anak adekku, mencuri uang-uang kami. Uang Neneknya, uang saya, uang Ibunya, dan lain-lain. Disimpan di mana pun, dia sering bisa temukan. Laci lemari Nenek pernah rusak, kuncinya hilang entah ke mana. Dia yang serahkan kunci itu, tanpa rasa bersalah," katanya.

"Ibunya tahu dia mencuri?" tanyaku.

"Sepertinya tahu, tapi tidak yakin juga."

"Untuk apa uang-uang itu?"

"Sepertiya untuk bermain gim daring."

"Tidak bisakah Nenek menegurnya? Atau ada yang ajak bicara Ibunya, karena sepak terjang anak itu sudah merugikan banyak orang?"

"Ya itulah, Neneknya tidak sampai hati untuk bicara dengan Ibu anak itu. Namanya sama cucu, mana ada Nenek yang mau cucunya disebut pencuri?"


https://pixabay.com/id/photos/bebek-bebek-berumbai-muda-imut-8058344/

Sampai kalimat ini, saya tercenung. Teringat perdebatan di satu grup wali santri sebuah pondok. Beberapa wali santri mengeluhkan barang-barang milik anak yang hilang berkali-kali. Amblas satu lemari. Sang Ibu mengganti barang-barang hilang itu, tentu dengan nominal yang tidak sedikit. Bayangkan, satu kemeja (merk tertentu yang banyak dipakai di pondok itu) berkisar 150.000- 200.000 rupiah. Belum lagi sarung, kaus dalam, celana dalam, sepatu, kaus kaki, buku-buku, dan pernik-pernik lainnya.  Tak berselang lama, sang anak lapor lagi bahwa barang-barangnya hilang. 

Ungkapan kegelisahan ini memancing munculnya serita serupa. Lemari dibobol, walau pintu sudah digembok tapi masih bisa dicongkel sehingga pintu lepas. Berturut-turut keresahan itu tertuang di grup. 

Sebagian kecil merespon dengan pola yang sama. Kasus hilang barang di pondok  dianggap normal, wajar, namanya saja pondok, tempat berkumpul banyak santri dari berbagai daerah. Dengan berbagai karakter sesuai latar belakang pengasuhan, kehilangan barang sejenis itu dianggap lumrah. Yang digarisbawahi adalah ajakan bersikap legowo, pasrah atas ketentuan takdir ini. Ada juga yang mengajak muhasabah, siapa tahu ada pendapatan yang tidak jelas kehalalannya. 

Nasihat-nasihat itu dapat diterima dengan baik, sesuai konteks pemahaman masing-masing. Yang mengejutkan saya, ketika ada yang memberi narasi 'pelaku adalah santri yang sedang belajar agama, mereka bukan pencuri'.

Penolakan diksi pencuri ini mengakibatkan perdebatan cukup tajam. Alasan para penolak itu seperti ini: sebab tempat mereka mengambil barang itu pondok. pelakunya santri, maka janganlah disebut pencuri Mereka adalah santri, titik. 

Ini sungguh menggelikan. Tempat bisa mengubah penamaan suatu kejadian menjadi apa adanya, lebih buruk, atau lebih halus. Jika mencuri di pondok, itu disebut mengambil barang tanpa izin. Bukan mencuri, sebab mereka adalah santri yang sedang belajar agama Islam. Berputar-putar terus di situ, keukeuh menolak habis-habisan diksi pencuri bagi pelaku pembobol lemari yang merugikan dan menyusahkan korban dan keluarganya. 

Muncul pikiran nakal saya: jika yang bilang begitu menjadi korban, secara berulang lemarinya dibobol, barang-barangnya habis digondol, apakah dia akan tetap berpendapat demikian?  

Tak lama, ada yang japri saya. Dia bercerita mengenal keluarga salah satu  penolak diksi itu dengan baik. Menurut beliau, anak Ibu tersebut memang seenaknya, adab kurang baik, cenderung dipenuhi apa pun yang diminta. Gongnya adalah: anak itu pernah berkasus dalam  pencurian!

Oh, saya paham sekarang. Sang Ibu yang  sangat vokal di grup, yang  menentang diksi pencuri bagi pelaku pembobolan, melakukan itu semua semata-mata karena rasa sayang pada anak. Dia tentu tak rela anak kesayangan yang dibanggakan, mendapat label itu. Saya yakin sebenarnya tidak banyak yang tahu kasus anaknya, tapi naluri ibu sebagai pelindung anak mendorongnya bersikap emosional. Setiap argumen yang diberikan orang lain dan tidak sesuai dengan keinginannya, diserang secara personal. 

Diskusi itu akhirnya berhenti. Hiruk pikuk perdebatan seputar diksi ini membuat saya jadi ingat salah satu hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yang berbunyi:

"Amma ba'du. Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikarenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya." (HR Bukhari)

Tidak sepenuhnya sama, tapi ada benang merah yang serupa, antara kisah teman saya di atas dengan keributan di grup. Pembaca pasti tahu apa yang saya maksudkan. 

Orang tua yang menyangkal keburukan anaknya, menurut saya, justru menggali jurang kerusakan bagi sang anak di masa depan. Pembentukan akhlaq yang semestinya berakar dari rumah, menjadi rapuh dan lemah. Orang tua melakukan pembiaran, pura-pura tidak tahu, menolak fakta bahwa sang anak menjadi liar, kriminal, menyusahkan, bahkan rusak dan merusak lingkungan.  Orang tua yang menyangkal keburukan anaknya, layak disebut orang tua yang tersesat dan menyesatkan. Mereka tersesat dalam labirin kasih sayang yang gelap, dan menyesatkan anaknya, mendorong mereka memasuki kebiasaan perilaku yang buruk.

Sampai detik saya menulis ini, saya mendengar kisah santri dikeluarkan dari pondok karena berbagai alasan. Salah satunya, membobol lemari. Apresiasi sebesar-besarnya bagi pihak pondok yang memberikan sanksi jelas dan tegas bagi santri yang sudah melampaui batas. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.