Hari Pertama: Bronies Terakhir (Mengenang Kepergian Acil Anis, Bagian 1)
Kamis, 27 Ramadhan, bertepatan dengan 27 Maret 2025, pukul 10.30.
Saya berada di perpustakaan, sibuk berkutat di depan komputer. Terdengar suara motor berhenti, lalu gerbang pagar dibuka. Pintu belakang berayun, seraut wajah muncul. Acil Anis, adek nomor 6, tersenyum lebar. Helm masih bertengger di kepalanya. Ia mengacungkan sekotak bronies pesanan saya.
"Teh, ini dulu ya. Satunya nanti jam setengah satu, boleh?" serunya.
"Yaa, bisa! Aku ke sekolah ntar siang kok, insyaaAllah jam satu siang," balas saya. Ia meletakkan kantung bronies di meja, lalu segera melesat pergi lagi.
"Dah, ya, aku bikin kue lagi. Babay, assalamu'alaikum!" Saya melihatnya melambai riang, balik kanan, lalu berlari lagi ke pagar depan. Suara motor melaju hingga jauh.
Adek kami yang lincah, cantik, sehari-hari berjualan bronies. Ini bronies terenak yang pernah saya makan. Merek lain, menurut saya, jadi B saja. Salah seorang guru penggerak binaan saya, dari Trenggalek, pernah memesan langsung pada Acil Anis.
"Bunda, sejak beli bronies Kak Anis, bronies X jadi gak ada apa-apanya. Saya pecinta bronies, ini benar-benar enak!" pujinya. Yang dia sebutkan adalah merek bronies terkenal yang outletnya tersebar di banyak kota.
Acil Anis tinggal di Jaya Abadi, kompleks yang jaraknya tak jauh dari rumah saya. Bersama ketiga anaknya (dua puteri dan satu putera), dia berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Selain dari dukungan teteh-teteh dan adik-adiknya, Acil Anis juga merintis bisnis bronies, dimulai sekitar akhir tahun 2024.
Ramadhan tahun ini, agak berbeda. Saya tidak bersiap-siap seheboh tahun-tahun lalu. Tak ada rencana berkumpul di Jombang karena masing-masing punya agenda lain. Rencana kepulangan sesuai skala prioritas tiap keluarga, tidak satu waktu sebagaimana tahun lalu. Mamah pun akan berlebaran di Balikpapan, bersama-sama kakak dan adik-adiknya. Julak Tettet, kakak nomor satu, juga akan ke Balikpapan, berlebaran bersama keluarga besa, mertua Aa Thoriq. Rencana mereka akan terbang hari Jumat, 28 Maret 2025.
Hari itu saya berencana ke sekolah, hendak memberikan hadiah bronies pada satu dua orang. Nanti saja, menunggu pesanan yang kedua selesai. Menjelang zuhur, Mas Budi mengabari sudah sampai alun-alun. Saya menjemputnya kemudian kami salat di masjdi Agung.
"Ayo bayar zakat ke Lazuq," ajak Mas Budi. Kami selesaikan semua urusan setoran zakat lalu langsung pulang.
Pukul 12.10 kami sampai di rumah. Saya baru melepas kaus kaki. Masih berjilbab dan belum berganti baju, posisi leyeh-leyeh ketika telpon berbunyi. Dari Aqila, putri kedua Acil Anis.
"Bundaaaa, Una pingsan!" teriakan bercampur isak tangis mengejutkan saya. Saya melompat terbangun, bergegas mengambil kaus kaki sambil berteriak, "Ayah, ke JAya Abadi. Acil Anis pingsan!"
Entah, perasaan saya mengatakan ini hal serius dan gawat. Sampai di rumah Acil Anis, ketiga anaknya menangis di ruang tamu. Acil Anis terbaring di kamar depan, di dekat teras, dengan posisi miring ke kiri. Pipi kanannya menempel lantai. Ia bergamis hitam, berjilbab rapi. Roknya tidak tersingkap, seolah-olah dia tidur hati-hati.
Saya memegang kepalanya, berusaha melihat wajahnya. Ada air menggenang sedikit di dekat pipinya. Matanya separuh terbuka, terdengar suara dengkur halus.
"Ayah, IGD! Kita harus bawa ke IGD! Sekarang!" Saya berteriak. Anak-anak Acil Anis meringkuk di ruang tamu, menangis tersedu-sedu. Saya menelepon Acil Nurul, adek nomor tujuh, memintanya datang. Mas Budi ke rumah Bu Afifah yang berjarak tiga atau empat rumah. Maksudnya hendak pinjam mobil, karena kami berkendara motor.
Saya mencoba menelepon beberapa orang, qadarullah tak satu pun mengangkat. Mas Budi kembali dari rumah Bu Afifah.
"Gak ada yang keluar, Bun," katanya.
"Setahuku anaknya di rumah," sergahku.
"Mungkin istirahat," jawab Mas Budi. Oh ya, mungkin saja. Siang-siang begini memang enak untuk tidur.
Saya telpon Bu Afifah. Saya yakin beliau di kantor Dinas Kesehatan. Selain itu, setahu saya, DInas Kesehatan punya layanan ambulan yang bisa dipanggil. Alhamdulillah tersambung. Saya sampaikan apa yang terjadi, beliau langsung menyatakan akan mengirim ambulans.
Acil Nurul dan suaminya, Paman Zaki, datang. Mereka berdua membantu menenangkan anak-anak. Kami mendiskusikan secara cepat ke mana anak-anak itu akan dibawa sementara kami bawa Una ke rumah sakit.
Sekian menit kemudian, agak lama juga, datang dua orang ibu-ibu dari dinas kesehatan. Sayangnya mereka tidak bawa ambulan. Mereka mengendarai motor dinas khusus untuk penanganan darurat (atau untuk tujuan sejenis itu)
Cek gula darah, berkisar di angka 270-an. Cek tensi, 90. Mereka memanggil-manggil Acil Anis, tak ada respon baik.
"Bawa ke IGD, Bu, kandungan gula darah terlalu tinggi untuk kondisi puasa," kata salah satu Ibu.
Mas Budi pulang mengambil mobil. Bersama Paman Zaki, Acil Anis diangkat dan ditidurkan dalam mobil.
"Aku mau dibawa ke mana?" erangnya lirih. Alhamdulillah, saya lega mendengarnya. Dia sudah sadar!
Sebelum berangkat, saya ingat bahwa Acil Anis sempat bilang dia menunggak iuran BPJS. Kami penuhi dulu semua tunggakannya agar perawatannya dapat ditanggung BPJS. Saya dan Acil Nurul membagi tugas: saya ke rumah sakit, Acil Nurul dan Paman Zaki ke rumah saya, mengantar anak-anak. Saya berkirim pesan WA ke anak-anak, meminta mereka sediakan perlengkapan bermalam. entah kenapa, saya yakin kami akan bermalam di rumah sakit.
Di IGD, di bagian depan. Acil Anis ditangani seorang perawat senior. Ditanya ini itu, dicek lagi nadi, tekanan darah, dan lainnya. Saya mendampingi di sebelahnya.
"Ke dalam, Bu," kata sang perawat. Saya mengikuti brangkar yang didorong ke dalam. Bayangan saya, Acil Anis akan ditempatkan di bagian tengah IGD. Perawat itu terus mendorong hingga ke belakang.
Saya terkesiap. Ini ruangan gawat sekali, di mana banyak alat-alat bantu terpasang. Saya tahu karena beberapa bulan sebelumnya, Bude Siti, mbakyu Mas Budi, ditempatkan di sini.
Benar saja. Acil Anis diminta terlentang, karena alat bantu pernapasan akan dipasang. Saya diminta membujuknya. Dia menolak, "Pusiiing," katanya. Saya membujuknya lagi, tapi tak berhasil.
'Ibu keluar saja, biar kami tangani," pinta perawat. Dengan berat hati saya keluar. Pikiran saya campur aduk. Kaki saya terasa tidak menapak. Saya yakin ini awal suatu yang berat dan sulit, walau belum terbayang jelas apakah kesulitan itu.
Berikutnya kami menunggu berbagai hal dilakukan. CT scan dan rontgent paru, misalnya. Saya mendampingi brangkar masuk ruangan CT scan, menunggu hasilnya di bangku luar ruangan.Acil Nurul datang menyusul. Kami menelepon saudara-saudara, mengabarkan lewat grup keluarga. Sementara proses pemeriksaan dilakukan, kami tidak memberikan informasi detil pada Mamah.
Sore hari, setelah azan asar, saya dipanggil dokter.
"Ibu sendirian?" tanya beliau.
"Ada suami, Bu, di luar," jawab saya.
"Panggil saja Bu, panggil juga kerabat lainnya, jika ada," katanya. Saya tertegun. Inilah masanya, kami akan mendengar berita buruk sebagaimana firasat saya semula. Sayang Mas Budi tidak ada, ia masih salat jamaah Asar di masjid.
Saya dan Acil Nurul duduk menghadap dokter yang sedang mengetik-ngetik sesuatu di depan komputer. Layar monitor diputar, dihadapkan pada kami.
"Ada perdarahan otak, Bu. di sini. Bagian ini, cairannya. Harus segera dioperasi, rencana besok siang. Ibu diminta tanda tangan persetujuan," kata beliau.
Kami berdua tercengang. Sekian detik, saya seperti melayang. Ini sunggu di luar prediksi saya. Saya kira, Acil Anis hanya pusing biasa, perlu perawatan inap, dan akan pulang tiga hari ke depan. Saya siap menginap di rumah sakit, tapi saya tak siap dengan kondisi buruk ini.
"Haruskah operasi? Tidak adakah jalan lain?" tanya saya. Bukannya mau ngeyel, saya hanya ingin menakar kemungkinan lain.
'Tidak ada, Bu, kalau tidak dikeluarkan, kondisinya jelas akan menurun. Sekarang saja Bu Anis sudah begitu, tidak baik," kata beliau.
Mas Budi datang, alhmdulillah saya lega.Setelah mendengar penjelasan ulang, Mas Budi menyentuh bahu saya.
"Tanda tangani saja, bismillah," bisiknya. Saya menurut.
Selesai tanda tangan, kami berjalan ke luar. Kaki terasa tidak menapak, pikiran kalut, perasaan kacau. Ya Robb, apa rencanaMu? Ke mana operasi ini akan berujung?
"Teh, gak bekam saja?" bisik Acil Nurul.
"Ini perdarahan otak, Acil. Bekam gak nyampe," jawab saya lesu.
"Iya juga," katanya.
Kami duduk diam. Saudara-saudara menelpon, mengirim pertanyaan lewat grup. Perkembangan kami sampaikan apa adanya.
"Aku pulang!" kata Julak Tettet. Tiket pesawat dibatalkan. Mereka berkendara mobil menuju Jombang.
Begitu pula yang nomor dua, Julak Yayi, dan Acil Fifi, adek bungsu, nomor delapan. Ini kepulangan yang tidak direncanakan, ini perkumpulan yang tidak sesuai harapan. Kami ingin berkumpul dalam suasana bahagia, bukan dalam keadaan sedih dan cemas begini.
Acil Anis ditempatkan di HCU. Selama semalam, nyaris saya tidak bisa tidur. Acil Anis merintih, hendak menarik-narik alat bantu napasnya. Tangannya diikat di tepi tempat tidur.
Malam-malam berat baru saja dimulai.
(Bersambung).





Tidak ada komentar: