26 TAHUN
5 JANUARI 2020 - 5 JANUARI 2026
Pekan lalu, Senin, 5 Januari, tepat 26 tahun pernikahan kami. Bagi Nabila dan mas Singgih, 1 tahun berlalu, masyaaAllah, alhamdulillah. Sekarang Nabila tengah hamil tujuh bulan. Hari perkiraan lahir sekitar akhir Maret, insyaaAllah.
Tak ada ucapan selamat antarkami, antara saya dan Mas Budi. Lempeng saja, saya ingat, tapi tak berniat mengingatkan Mas Budi. Kami tipe keluarga yang memandang hari lahir, hari jadi, itu tidak penting. Bertambah satu tahun sama saja dengan bertambah satu hari setiap hari. Makna besarnya tetap: jatah kebersamaan kami berkurang dari waktu ke waktu, tanpa perlu menunggu satu tahun.
![]() |
| Di Kota Tua, Desember 2025 |
Ada yang bilang, angka hanya angka. Angka 26 itu kumpulan kejadian-kejadian kami bersama-sama, dengan segala drama suka duka. Saya pernah bertanya, "Siapa di antara kita yang wafat lebih dahulu?" Pertanyaan ini dilontarkan dengan rasa sesak mengendap di dada, membayangkan kehilangan yang perih.
Beberapa kali Mas Budi hanya merespon dengan memeluk saya erat-erat sambil bilang,"Jangan ngomong gitu, ah."
Saya mendengar cerita Julak Ratman, sahabat Mamah. Hari-hari setelah suaminya wafat, beliau sering memeluk pakaian suami sambil terisak-isak. Saya membayangkan rindu yang dalam, tapi perih, sakit, pilu, karena yang dirindu sedikitpun tak bisa digapai lagi. Tak akan ditemui lagi. Tak bisa disentuh dengan cara apa pun. Membayangkan suasana hati Julak Ratman saja saya sudah berderai-derai air mata, apalagi jika mengalaminya sendiri. Entah sekuat apa saya menjalankannya.
Teh Ade, kakak nomor tiga, yang suaminya wafat tepat malam takbiran, pernah menasihati saya. Intinya begini: Senyampang ada suamimu, sering-sering peluk. Layani dan berbakti sepenuh hati. Jika sudah wafat, tinggal penyesalan. Rindu ingin peluk, tapi sama sekali tak bisa.
Kali lain, saya bertanya pada teman yang suaminya wafat beberapa tahun lalu. Namanya Bu Riska, seorang guru yang memiliki dua anak laki-laki.
"Pernah mimpi bertemu Pak Mus?" tanya saya.
"Pernah, beberapa kali," jawabnya. "Beliau di depan pintu kamar, tersenyum. Aku buka pintu kamar, tapi dia tidak mau masuk. Aku peluk erat-erat sambil bilang 'Mas, aku kangen', tapi dia tidak bilang apa-apa. Lalu aku terbangun."
Saya yang mendengar ceritanya, menahan sedih yang mendesak-desak, sementaraBu Riska bercerita dengan ekspresi biasa. Ia memang perempuan tegar.
Mas Budi dan saya punya kebiasaan berpelukan, setiap hari. Tak perlu sebab. Berpapasan di kamar, berpelukan. Bertemu di dapur, berpelukan (tentu saat tak ada orang). Jika belum berpelukan dalam satu hari, segera mencari momen berpelukan. Saya menikmati bersandar di dadanya, menautkan tangan erat-erat di punggungnya.
Kami sama-sama sudah mengalami berbagai badai. Jika ditengok ke belakang, saya punya daftar panjang kesalahan dan kekeliruan, mulai dari skala kecil hingga skala besar. Jika waktu bisa diputar kembali, saya akan perbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Tentu saja tak ada 'jika', bukan? Itu pekerjaan syetan yang akan melumpuhkan harapan, melemahkan motivasi perbaikan, dan menumbuhkan rasa putus asa.
![]() |
| 5 Juli 2025 |
Jadi, alhamdulillah, masyaaAllah, selamat sudah memasuki 26 tahun, Mas Budi dan aku! Di usia 26 tahun pernikahan, alhamdulillah ada amanah tiga anak bersama kami. Ini warna warni kehidupan yang tidak pernah kami prediksikan sebelumnya. Kesempatan yang membuat kami berdua belajar kembali, saling meneguhkan dan menguatkan.
Semoga Allah subhanahu wata'ala berikan kekuatan kami menjalani masa berikutnya dalam taat. Diberkahi, diridhoi, dan dikumpulkan dalam jannahNya kelak.
Doa yang sama untuk para pembaca. Barakallahu fiikum jamii'an.




Tidak ada komentar: