MONA, MOMA, DAN MOLA
Senin, 13 Juli 2026.
Bagaimana pagimu hari ini? Seninku berderai-derai, karena Bil.
Senin pagi saya lintang pukang. Semalam saya menulis di status WA, bahwa hari Senin ini hari gedubrakan dan hari blingsatan. Seisi rumah gupuh menyiapkan diri, sarapan pagi, mengecek kendaraan, memanaskan mesin, menyemir sepatu. Itu gedubrakan lelaki. Aku tidak tahu bagaimana gedubrakan yang sesungguhnya karena lelaki dewasa di rumah, yaitu Ayah Budi, sudah gedubrakan sejak sebelum subuh, lalu saya antar ke stasiun. Jam lima pagi, tak ada bapak-bapak gedubrakan di rumah kami.
Gedubrakan anak-anak ada hampir setiap pagi. Dimulai semenit dua menit menjelang subuh, saya menepuk kaki Zaif yang membuatnya gedubrakan bangun. Ia harus mengejar menit terakhir sebelum iqomah. Lebih sering, iqomah yang mengejarnya sehingga dia gedubrakan terbirit-bitit lari ke masjid dan lupa menutup gerbang. Kalau sempat, ia akan berteriak agar lampu teras jangan dimatikan dan gerbang jangan diselot. Sebab walau ganteng dan putih, Zaif takut pada hantu atau tuyul atau wewe gombel atau pocong, apalagi kuntilanak. Tanda-tanda ketakutannya jelas, pintu gerbang dibanting hingga berbunyi gedubrakan, lalu langkah kaki yang cepat dan sembarangan menendang apa pun, kemudian pintu tengah tiba-tiba terbuka secara gedubrakan. Biasanya saya akan menegurnya agak keras, "Mbok ya pelan-pelan... Kenapa, takuut yaaaa?"
Bagian akhir, nada suara menjadi mendayu dengan nada meledek. Saya memang sedang meledek, menggoda, dan mengusiknya. Sebagai orang yang sudah tua dan pernah seusia dia, saya tahu bagaimana lucunya rasa takut itu. Yang dibayangkan yaitu kuntilanak sedang mengejar di atas kepala, atau wewe gombel melipir di dekatnya dengan wajah jelek, lidah keluar, dan darah mentes-netes. Jenis hantu yang muncul dalam pikiran sama sekali tidak kreatif, sebagaimana hantu kebanyakan dalam film Indonesia. Coba dibayangkan hantu terong, bergigi, bercakar, bertanduk. Bagaimana caranya, supaya hantu terong itu jadi menakutkan. Nah, susah buat saya, karena pikiran saya masih terbatas pada apa yang saya baca dan saya lihat. Saya kurang kreatip!
Kembali pada isu utama: gedubrakan.
Pagi tadi, saya menangis terisak-isak. Tidak pakai gedubrakan, tidak masuk alias tidak cocok. Ceritanya, kami tiba-tiba mendengar erangan suara kucing di bawah tangga menuju ruang penitipan bayi. Mbok, Momom, Gege (ini nama kucing, bukan nama tetangga), berputar-putar dekat situ. Suara erangan itu parau, terdengar sakit sekaligus takut. Saya coba melongok ke situ, tidak tampak siapa di sana.
Penasaran, karena tak tega dengar suara meong erangan seperti itu, saya bongkar segala barang yang menghalangi pandangan. Di situ, di sela-sela tumpukan, Bil meringkuk. Kedua kaki belakangnya melebar ke samping, kedua tangannya menggapai-gapai udara, seperti hendak cari pegangan. Saya mengangkatnya ke luar.
Bil tergeletak, mengerang, pandangannya kosong. Saya mona, mo nanges. Air mata mulai berdesakan hendak keluar. Bil sedang tidak baik-baik saja. Dengan posisi kaki demikian, saya menduga dia tertabrak. .
"Bil, sakit ya? Kamu ketabrak?" Saya bertanya sambil mengelus kepalanya. Sekarang bukan mona lagi, sungguhan air mata balapan mengucur, saya terisak-isak. Bukan sekali dua saya menemani kucing sakaratul maut. Dari yang tertindas mobil, keracunan (badan mengejang, terlempar berputar-putar akibat rasa sakit di perutnya), hingga sekadar sakit tua. Momen yang membuat air mata berderai-derai, tidak tega melihat isyarat kesakitan lewat mata dan gerak tubuhnya.
Kaki Bill bergerak, tangannya mengejang. Saya semakin menangis, sambil membelainya. Cepat-cepat saya keluarkan ponsel, hendak menghubungi Dokter Habib, dokter hewan langganan kami. Suara saya tersendat-sendat, tertahan isak. Dokter menyarankan segera membawa ke kliniknya.
Jadilah, pukul enam pagi, dalam keadaan Zaif sudah memakai seragam lengkap sementara saya masih pakai gamis hitam, kami melaju sambil membawa pet-carrier. Jalanan sudah ramai, di beberapa titik kendaraan merayap. Semua bergegas menuju sekolah, sementara saya bergegas menuju klinik hewan. seolah-olah saya emak-emak yang tidak gedubrakan sama urusan kerja!
Di klinik, lagi-lagi saya mewek, terisak-isak hingga wajah basah oleh air mata. Dokter Habib menyuntikkan ini dan itu, memasang infus. Bil memberontak, kaki tangannya kejang, perutnya bergetar, napasnya pendek-pendek. Saya berbisik, " Ya Allah, jika memang dia akan meninggal, segerakan saja."
Saya belai kepala, memandang bola matanya yang buta sebelah, dan bilang, "Just go, Bil."
Just go.
Selalu itu yang saya katakan kepada kucing-kucing yang sekarat. Tidak tahan melihat mereka kesakitan.
Bil saya temukan di pasar, ketika dia masih bayi setahun lalu. Benar-benar kecil. Dia berjalan di tepi, sepanjang dinding pembatas toko di lorong. Kedua matanya penuh kotoran. Dia seperti meraba-raba jalan. saya tertegun, sekian detik memandangnya beringsut pelan. Hati ingin mengambil, tapi saya tahu Mas Budi akan melarang. Kucing di rumah sudah banyak.
Di tempat parkir, bayangan bayi kucing hitam putih yang berjalan sambil meraba-raba dinding dengan wajahnya tak lenyap. Saya berbalik, menncarinya di sela-sela meja lapak. Ia saya temukan meringkuk lemah. Bayi kucing gemetar itu saya masukkan kantung plastik, digantung di stang sepeda motor, dan dibawa pulang. Ia diberi nama Bil, dari amBil di pasar. Mata kanan tidak bisa diselamatkan. Mata kiri alhamdulillah masih bisa disembuhkan, masyaaAllah. Semakin hari, Bil semakin besar. Suka rebutan ayam dan banyak makan. Dia lincah dan pemberani.
Bil manja, sering minta dibelai dan merengek minta ayam.
Bil akhirnya meninggal. Saya mendapatkan kabar itu ketika menunggui Zaif yang sedang upacara pembukaan MPLS di SDIT Ar Ruhul Jadid. Air mata dan wajah sembab saya tersembunyi di balik masker. Pak dokter berbaik hati mengantar Bil pulang ke rumah dan diterima Bunda Ana. Pet carrier berisi jenazah Bil disimpan di ruang belakang. Nanti malam, menunggu Ayah pulang, insyaaAllah dimakamkan. Realisasi pemakaman Bil terjadi pukul 19.45. Berempat, saya, Ayah, Aqila, dan Aif, memakamkan di tanah kosong depan rumah.
Urusan Aif selesai (insyaaAllah saya ceritakan berikutnya), saya bergegas ke sekolah. Rapat khusus guru mata pelajaran selesai, ditutup salam, ketika pantat saya baru jenak duduk. Setelahnya kami, saya dan Bu Aini, menuju ruang guru. DI sanalah saya mendapatkan cerita begini, begitu, begono, begina, tentang sesuatu. Dalam keadaan sedih dan kehilangan Bil, cerita itu mengecewakan. Saya moma. mo marah. Harapan akan perubahan baik menemukan ruang kosong, hampa, zonk. Tak ada beda antara dulu dan kini. Tentang ini, semoga bisa saya tuliskan, kapan-kapan, insyaaAllah.
Saya meresponnya dengan omelan penuh jengkel, mengulik kronologi, fakta, dan narasi. Titik ini, rasanya lelah sekali. Otak mencoba mengingat-ingat, apa saja yang sudah terjadi tadi pagi, tadi malam, kemarin sore, kemarin siang, menelusuri jauh hingga beberapa hari ke belakang.
Saya lelah. Saya mola, mo lari!
Inilah waktunya jeda sebentar. Satu dua rencana dibatalkan. Saya pulang, mengendarai motor sambil berpikir. Berjalan di rumah sambil berpikir. Saya mengambil buku, membaca dan mencoba mencerna huruf-huruf itu. Saya mencermati gaya bercerita sang penulis. Saya butuh pengalih yang mencerahkan.
Satu hal yang melegakan. Ketika saya mengirim WA ke Mas Budi, saya sampaikan bahwa saya sedih, takut, cemas, kecewa. respon Mas Budi: Aku peluk.
Saya mona lagi, kali ini tanpa moma dan mola!




Tidak ada komentar: