PESONA ABANG ZAIF
Senin, 13 Juli 2026 kemarin, hari pertama Zaif masuk sekolah baru.
Qadarullah, pindah lagi ke SDIT Ar Ruhul Jadid. Kelas 1 di SDN Jombatan 3, kelas 2 di SD Dian Madani, kelas 3 (semoga seterusnya) di SDIT Ar Ruhul Jadid.
Salah satu alasan yaitu masalah jarak. SD sebelumnya ada di desa Pandanwangi. Perlu waktu 7 - 10 menit berkendaraan motor dari rumah ke tempat tujuan. Jika terhalang kereta api lewat, perlu tambahan waktu sampai 10 menit. Pagi hari, ada beberapa kereta yang melintas. Dibutuhkan perhitungan tepat agar bisa melintas di jalur itu tanpa terhalang oleh kulo-nuwunnya aneka jenis kereta api.
Hal lain lagi, Zaif ingin bersepeda ke sekolah. Semula kami menjanjikan akan mengizinkannya gowes di kelas tiga SD. Namun, izin itu dicabut diam-diam, tanpa woro-woro kepada Zaif. Penyebabnya adalah keadaan lalu lintas yang tidak aman. Dari arah selatan, di pagi hari, para orang tua beserta anak, remaja setingkat SMA, bersicepat melaju. Benar-benar bersicepat, bergegas-gegas, berkecepatan tinggi. Mereka melesat seolah sangat takut terlambat. Dari arah utara, sulit menyeberang ke barat. Lampu lalu lintas utara-selatan kompak, sama-sama hijau atau merah. Tak ada gantian. Otomatis, kepadatan jalan begitu tinggi. Padat bukan merayap, tapi rata-rata melaju macam alap-alap. Mendadak banyak cosplay Valentino Rossi dan Rossa berbalapan. Ngeri.
Di dekat masjid, suasana ramai sekali. Para orang tua siswa baru menggandeng anak masing-masing, bersalaman dengan kakak kelas yang bertugas menyambut, dan dengan guru yang berjajar sumringah. Saya sengaja menahan Zaif agar tidak masuk dulu, hendak melihat situasi.
"Deg-degan, Bang?" Saya bertanya pada Zaif yang kepalanya tidak berhenti menoleh ke sana ke mari. Pasti dia memindai situasi. Ditanya begitu, dia hanya senyum-senyum sambil menggosok tangannya.
"Kalau deg-degan, gak papa kok Bang, normal. Abang anak baru di sini," kata saya lagi. Seyum Zaif tambah lebar.
"Hayuk, masuk, kita cari dasi, topi, dan ikat pinggang," ajak saya.
Saya meggandengnya, memilih jalur kiri di mana kakak kelas laki-laki berdiri. Si kakak melihat Zaif. Saya menebak dia berpikir, karena sekian detik wajahnya tampak berubah. Mungkin bingung karena wajah Zaif asing baginya.
"Anak baru, Kak," kata saya.
"Oh. Topinya dipakai, Dek," ujar kakak kelas.
Diberi tahu perkara topi, Zaif tampak salah tingkah. Dia berbalik, mengarahkan tas ranselnya ke depan saya, sambil berkata, "Tolong ambilkan, Bun, di tengah."
Jelas sekali dia panik dan gugup.
"Tenang, calm down, gak papa," bujuk saya.
Selanjutnya berjalan lancar dan aman. Kami langsung ke koperasi, berburu topi, ikat pinggang, dan dasi. Kalau foto ini dilihat, akan tampak dasi Zaif terbalik. Dia memang sengaja membaliknya, karena nama pada dasi masih sekolah yang lama! Begitu pula nama di ikat pinggang dan kaos kaki. Sebab itu, selepas mendapatkan semua pernik-pernik itu, secepat kilat Zaif mengganti dasi, topi, kaos kaki, dan ikat pinggang.
"Bunda tunggu di sini?" tanyanya. Saya mengiyakan. Dia pasti butuh ditemani dulu sampai merasa nyaman. Kalau perlu, saya akan antar sampai ke atas, ke kelasnya, memastikan dia diterima oleh guru dengan baik.
Jadi, saya berdiri depan koperasi, mengamati jalannya pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ini. Anak-anak dibariskan dan diminta duduk di lapangan berpaving. Rentetan acaranya cukup panjang. Matahari pelan-pelan naik, panas perlahan menyengat. Yang belakang mulai sibuk bermain. Beberapa anak laki-laki, entah kelas berapa, bahkan sudah kabur ke ruang tunggu yayasan. Karena panas merambat ke barat, saya bergeser mencari bagian teras yang teduh.
Saya fokus pada Zaif. Tampaknya dia mulai disapa anak-anak sekitar. Dua baris di depannya malah sampai putar badan dan mengajaknya bicara. Lewat pukul delapan, barisan dibubarkan. satu deret per satu deret masuk kelas masing-masing. Kelas Zaif paling akhir. Saya mendekat sambil membawa tas. Seperti rencana semula, saya akan mengantarnya ke atas.
Zaif mendekat bersama dua teman barunya. Bertiga mereka berangkulan, macam besti yang sudah lama tak bertemu sehingga rindu. Saya melongo sambil menenteng tas.
"Bunda, aku ke kelas ya, sama mereka," katanya, dengan senyum lebar, serta tangan yang hinggap di bahu teman di kiri kanannya. Saya bilang OK saja. Mereka melenggang sambil mengobrol, tertawa, saling memandang. Ah, si ganteng kecil ini memang pintar menarik perhatian!
Gongnya, benar-benar gong besar yang bikin saya dan Ayah tertawa berdua, Zaif terpilih sebagai ketua kelas! Bayangkan, anak baru, mendapat kepercayaan jadi ketua kelas di hari pertamanya! MasyaaAllah, macam mana pula!
Saya tanya dong, bagaimana asal muasalnya. Begini dia bercerita:
"Tadi pemilihan ketua kelas. Ustazah bertanya siapa yang mau mengajukan diri, tiga muslim, tiga muslimah. Aif ngacung. Terus pemilihan. Yang pilih Aif 14 anak. Ya sudah, Aif jadi ketua kelas."
Dia bercerita itu dengan wajah malu-malu mau, senang, bangga, seperti campur aduk jadi satu. For your information, jumlah siswa di kelasnya 32 anak. Jika 6 kandidat tidak ikut memilih, suara pemilih tinggal 26 anak. Dia dapat 14 suara, artinya 50% + 1. Pendatang baru langsung mengalahkan status quo!
Di meja makan, Ayah memberi wejangan tentang keberanian mengacung untuk menjawab, mengemban tugas, dan sejenisnya.
"Selama hal baik, bagus kalau Aif berani mengacung. Tidak apa-apa, boleh itu. Kecuali berhubungan dengan hal buruk."
Zaif manggut-manggut.
"Yang amanah, Bang. Abang harus jadi contoh baik bagi teman-teman. Gak boleh telat, masa ketua kelas telat. Dijaga kelasnya supaya baik-baik semua," nasihat saya. Kayanya nasihatnya terlalu ndakik, tapi biarlah.
Zaif manggut-manggut lagi.
"Teman-temannya kepincut pesona Abang Zaif!" seloroh saya. Tentu kalimat ini tidak saya ucapkan di depannya, melainkan ketika berdua saja dengan Mas Budi, Kami terbahak .
Doakan Abang Zaif amanah, ya!




Barakallahufiik✨ Terharu karena bunda sangat sayang pada bang zaif🥹 sedetail itu bunda memastikan semua baik² saja.. 🌻
BalasHapusSehat dan bahagia untuk bang zaif dan keluarga✨
MasyaaAllah, terima kasih doa-doa baiknya. Akan kembali kepada Bunda sekeluarga juga. Barakalahu fiikum. Terima kasih juga usdah membaca dan memebri komentar.
Hapussemangat, abang Zaif..
BalasHapus