SETARA DENGAN SEDEKAH FII SABILILLAH
Lika Liku Tempat Kerja
Berada di tempat kerja, ada beberapa pilihan keadaan. Ini berdasar pengalaman pribadi, ya Ges, bisa benar, sangat bisa salah.
Pertama, keadaan kondusif dan damai. Saya bilang begini, bukan berarti tanpa konflik. Ketidaksesuaian dan masalah pasti ada di mana-mana. Namun, karena sistem yang sehat dan kukuh, ditambah watak personal yang rata-rata bagus, plus leadership mumpuni, masalah ada jalan keluar. Tidak berlarut-larut, tidak pula menjadi alasan berpecah apalagi berkelahi. Saya melihat ini di tempat suami bekerja.
"Ya sama saja, masalah tetap ada," sanggah suami ketika saya menyampaikan kesan saya itu. Ya sih, bener, masalah mah di mana-mana ada. Namun sependek pengetahuan saya, selama suami bekerja sejak 2003 (sudah 23 tahun, masyaaAllah!), tak pernah ada cerita konflik yang membakar emosi banyak orang. Tak seperti di sekolah X yang saya kenal. Nanti, di bagian bawah, akan saya ceritakan bagaimana ruwetnya konflik X tersebut.
![]() |
| Sebagian kecil rekan kerja suami. Abaikan warna hijau mencolok mata. |
Kedua, lingkungan kerja yang tenang sekaligus tegang. Seperti memendam api dalam sekam. Tak ada kemarahan yang keluar secara terang-terangan, tapi hawanya panas. Kasak kusuk, saling mengintai diam-diam. Pernah suatu waktu, saya menjadi narasumber di sebuah lembaga. Pemberian materi berjalan lancar. Tanya jawab agak macet. Lirikan mata beberapa orang cukup aktif. Ada kode-kode yang seperti melayang-layang di atas kepala saya. Begitu kelar acara, saya bertanya pada pengundang yang juga teman saya sendiri.
"Di sini suka berantem, ya? Ada gap atau blok satu sama lain?"
Yang ditanya tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. Dia mengatakan sesuatu yang tidak menolak tapi juga tidak hendak menceritakan lebih jauh. Saya tahu diri. Pembahasan beralih kepada topik lain yang lebih ringan dan santai.
Ketiga, lingkungan kerja yang panas. Di tempat begini, kesabaran terancam menjadi setipis tisu. Kepercayaan langka. Blok atau gap antarkelompok tajam sekali. Apalagi ditambah kepemimpinan yang lemah. Sistem tidak terbangun secara baik. Kalaupun ada sistem, para pemegang keputusan gagal mengeksekusi secara baik. Belum lagi jika lagak para pembesar yang arogan, antikritik, sok kuasa. Semakin apes jika ada pihak-pihak yang korup, tamak, rakus, tidak memenuhi hak sebagian banyak pihak, tidak mau mendengar, melakukan aksi pembungkaman secara masif.
Hilangnya Legitimasi
Saya pernah melihat pemimpin yang kehilangan legitimasi di hadapan bawahannya. Tepatnya, dihilangkan legitimasi karena keputusan-keputusan yang merugikan banyak pihak.
"Dia masuk ruangan mencari seseorang. Satu ruangan itu tak ada yang menyapa, tidak ada aura 'Bapak'. Biasa saja, seperti halnya orang biasa masuk." Kurang lebih begitu cerita seseorang tentang pemimpinnya. Yang saya tangkap, orang itu tidak disegani, tidak dihormati akibat sepak terjangnya.
Ada juga pimpinan yang perlu menyebutkan nama orang lain agar isntruksinya ditaati, Contohnya seperti di bawah ini:
"Menurut arahan Bapak A, Bapak dan Ibu semua harus bla..bla..bla.."
"Berdasar Ibu B, Bapak dan Ibu harus bla..bla..bla.."
Padahal, Bapak A dan Ibu B tidak memiliki akses komando langsung kepada para bawahannya. Sebenarnya cukup dia memotivasi dengan narasi yang logis dan sesuai batas wewenang sehingga para bawahan mau mentaati. Namun karena sudah terjadi delegitimasi di mata bawahannya, dia perlu cantolan. Statusnya sebagai pimpinan tidak cukup kuat untuk membuat arahannya dipatuhi.
Rasanya kalimat saya berbelit sekali. Semoga pembaca mengerti.
Nah, sekarang saya mau ceritakan bagaimana konflik dapat membakar banyak orang. Ditulis sebagai pengingat bagi diri sendiri agar berhati-hati menangani perseteruan.\
Ada sekelompok orang yang dikenal dekat dan akrab. Sebagai sesama pejabat, mereka bersatu padu dan tampak kompak. Suatu waktu, karena satu dan lain hal, muncul perseteruan. Terbagilah menjadi dua kubu. Perkubuan macam itu sebenarnya biasa sekali. Yang tidak biasa, entah bagaimana, konflik meluas. Masing-masing membawa pembela dan pendukung. Yang semula dari lima orang, tiba-tiba mnjadi sepuluh, lima belas, dan seterusnya.
Suasana konflik ini memanas sedemikian rupa hingga memunculkan penolakan tugas. Gambarannya, tugas A berkaitan dengan B. A dan B ada di kubu berbeda. A menolak tugas itu, padahal posisi dia ada di jabatan strategis yang seharusnya memberi contoh bagaimana konflik pribadi tidak mengalahkan sikap profesional. Dibujuk oleh seseorang, tak berhasil. Alasannya sakit kepala, tak sanggup, dan lain-lain.
Semakin konyol lagi ketika diselenggarakan rapat besar yang melibatkan semua pihak. Benar-benar penanganan yang lucu, aneh, dan tidak semestinya. Jadinya, forum itu tidak menghasilkan keputusan berguna. Yang ada, saling menjatuhkan, saling serang antarpendukung. Lucunya, yang berkonflik diam saja. Tidak bicara, tidak berkata-kata. Aih, macam manalah! Takjub sungguh melihat orang tua-orang tua ini bertengkar dengan cara tak dewasa!
"Mestinya, selesaikan di forum terbatas bersama mediator. Masing-masing pihak harus mau mendengar. Hasil forum terbatas itu mengikat siapa pun," saran seseorang.
Endingnya bagaimana? Endingnya seperti itu. Tidak usah ditulis di sini. Kejadian tersebut mengajarkan secara langsung tentang: jika sudah berurusan dengan kekuasaan, wewenang, jabatan, ending tergantung pada kekuatan lobi.Mana yang benar atau salah, mari wait and see!
Kesimpulan saya di atas tentu kesimpulan sederhana dalam ruang dan lingkup terbatas dan tertentu. Tak bisa digebyah uyah pada semua situasi. Bisa salah kaprah!
Efek konflik di atas ternyata panjang kali lebar. Ada pihak yang tak selesai memendam sakit hati dan merasa dizalimi. Ajakan memaafkan dan move on sulit diterima. Fisik dan psikisnya kena. Di sisi lain, sorotan terhadap pihak sebelah tak kalah tajam. Rekam jejak mengenai sepak terjang mereka memunculkan labelling.
Tentang Ulbah bin Zaid
Dalam satu kesempatan mendengarkan pemaparan seorang teman, ada bahasan menarik tentang sedekah yang elegan. Kisahnya dimulai dari ajakan Rasulullah shallallahu wasallam kepada para sahabat agar berinfaq dan sedekah dengan harta yang dimiliki untuk keperluan perang Tabuk.
Ulbah bin Zaid, seorang sahabat, menangis di malam hari. Ia demikian miskin sehingga tak punya apa pun untuk disedekahkan. Kemudian ia berkata:
"Aku bersedekah atas setiap muslim dengan segala kezaliman yang menimpaku. Baik kezaliman yang menimpa harta, jasad, atau kehormatan."
Doa itu merupakan bentuk keyakinan Ulbah bahwa memaafkan orang yang zalim kepadanya dapat menjadi satu-satunya hal yang dapat dipersembahkan kepada Allah subhanahu wata'ala.
Keesokan hari, setelah dialog singkat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa sedekah Ulbah diterima. Berita itu menjadi penghibur Ulbah. Ia tak punya harta, tapi keikhlasan hati dan kelapangan jiwa untuk memaafkan dapat menjadi jalan bersedekah fii sabilillah.
Tamparan
Tauladan dari kisah sahabat di atas menampar saya. Betapa agung memaafkan, betapa tinggi kemuliaannya. Karena agung dan mulia, sikap memaafkan menjadi sulit diterapkan secara konsisten. Yang benar-benar memaafkan, bukan sekadar di lisan saja sementara hati ngedumel. Begitu agung dan mulianya hingga bisa sejajar dan setara dengan sedekah fii sabilillah. Amalan istimewa begini tentu hanya bisa dilakukan oleh orang istimewa.
Betapa luas kesempatan yang disediakan Allah subhanahu wata'ala untuk meraih ridhoNya. Ingat-ingatlah kisah zaid bin Ulbah jika hati terlalu keras dan sulit memaafkan. Sedekah memaafkannya setara dengan sedekah harta fii sabillah.
Semoga Allah subhanahu wata'ala lapangkan hati-hati kita. Allahumma aamiin.



MasyaAllah Tabarokallah maturnuwun bunda Umi.. tulisan ini penting buat saya.. makasih ilmunya
BalasHapusAi: Terimakasih bundaa pengingatnya
BalasHapusTapi sungguh, memaafkan ternyata memang tidak semudah yang diucap, ya, Bun.. Sepadan dengan besarnya ganjaran yang kita dapatkan. Semoga lekas ikhlas untuk hati yang belum ridho dan semoga kita tidak meninggalkan luka di hati orang lain..
BalasHapussaling, ya Mbak. Tak mungkin tidak menyakiti orang lain, karena standar orang beda-beda. Pada akhirnya, respon atas sakit hati yang akan menentukan pilihan sikap.
HapusMungkin ada benarnya, orang2 yang punya potensi cemerlang, tidak bisa bertumbuh optimal karena tinggal di lingkungan yang kasak kusuk panasnya. Terimakasih Bunda pengingatnya🤩
BalasHapus