Pagi tadi, saya membaca pengalaman seorang ibu muda yang membereskan dapur ibunya. Desain dapur modern, lantainya keramik bermotif serat kayu. Meja dapur dari semen berlapis keramik yang bagus. Sebagian dinding juga tertutup keramik krem.
Tautan tentang ini, ada di sini: https://www.threads.com/share/_i3OkiBzn/
Sang anak, sebut saja Ibu A, menyingkap bagian bawah meja dapur. Ada botol minyak ukuran besar yang berisi minyak bekas. Wajan yang sudah tak bertelinga (mungkin copot) yang tampak buluk. Kotak kue, thinwall, sekantung kersek merah entah apa isinya. Kotak persegi dari platsik yang didalamnya bertumpuk-tumpuk macam barang. Alas bawah meja dapur (yang tentu saja dari keramik) belepotan minyak goreng hitam. Sudut-sudutnya berdebu, lengket oleh entah cairan apa, dan begitu berantakan.

Takarir pada video itu menggelitik: Resikonya bakalan didiemin sama neneknya anak-anak sampai 7 purnama karena hampir semuanya aku buang pas orangnya ga ada 😌
Dari 8 bersaudara (sekarang tinggal 7), yang ditakdirkan hidup bersama Ibu atau nenek anak-anak saya, video dan percakapan di akun itu, benar-benar relate. Ibu tercinta kelahiran 1947, sekarang berusia menjelang 79 tahun. MasyaaAllah, panjang umur. Saat tulisan ini dibuat, beliau sedang jalan-jalan ke Balikpapa, mengunjungi tanah kelahiran dan bertemu dengan adik-adiknya. Paman dan Acil berkesempatan berkumpul dan bertemu. Tentu saja, mereka juga sepuh-sepuh.
Yang bawah ini, ketika berkunjung ke rumah-rumah.
.jpeg)
Yang ini, ketika ke IKN.
Yang di bawah ini, berkunjung ke Panti Wreda, di mana Paman Fauzi tinggal.
Untuk perempuan sepuh seusianya, Nenek dikaruniai banyak kelebihan. Badan masih tegap, bisa olah raga jalan kaki (walau tidak terlalu jauh), masih bisa membaca buku atau Al quran secara baik (berkacamata, tetapi tak ada gangguan berarti). Dahulu biasa ke sana ke mari sendirian, sekarang sudah tidak kami perbolehkan. Harus ada yang menemani ke mana pun pergi.
Nah, berkaitan dengan kebiasaan menumpuk barang, Nenek sebagaimana nenek-nenek lainnya. Kebanyakan nenek, maksud saya. Ada juga nenek lain yang tidak demikian, sependek pengetahuan. Dahulu, nenek teman saya, rumahnya bersih dan sedikit barang. Sedikit sekali, malah. Benar-benar barang fungsional saja yang ada. Saya masih terkesan hingga kini mengingat kebersihan dan keapikan rumahnya. The best!
Kembali pada masalah kebiasaan menumpuk barang.
Saya biasa membuang barang-barang (terutama di kamarnya) pada saat beliau pergi. Akan ditemukan aneka macam yang seringkali bikin geleng-geleng kepala. Kotak kue beraneka ukuran. Pernah ada kotak brownies, lapis Surabaya, kotak berkat dari berbagai merek catering, kotak sepatu kosong, kotak snack, dan lainnya. Belum lagi kardus lipat yang diselipkan di sembarang tempat; belakang lemari, sisi tempat tidur yang menempel di dinding. Tas souvenir atau goodie bag bermacam ukuran dan warna. Sebagian didapat dari berkat nasi dan kue, sebagian dari toko kue, souvenir haji, swalayan. Kantung kresek berbagai ukuran dan warna terselip dalam kondisi digulung di belakang meja rias, tepi tempat tidur di dekat kasur, belakang lemari, dan di wadah khusus (bergantung di teralis jendela). Belum lagi toples wafer, toples kukis, toples manisan, kaleng permen, kaleng kue kering, dan sejenisnya.
Di atas meja rias dan meja lain, ada gelas berisi air putih, gelas propolis (warna kacanya sudah tidak lagi bening, butek kecoklatan), cangkir bekas minuman diabetasol. Selain gelas, piring-piring kecil beraneka camilan yang masih disimpan setelah berhari-hari. Toples berisi keripik, peyek, bahkan ikan asin yang baunya sudah tidak sepenuhnya meng-ikan asin. Tas dan dompet kecil bergantungan di mana saja yang mungkin. Di sudut selatan timur, disembunyikan dua botol sirup marjan dengan cara ditutupi tas besar. Sebagai penderita diabetes akut, makanan minuman manis tentu saja musuh yang nyata.
Di sisi lainnya, ada kardus berisi pakaian-pakaian bekas berbagai ukuran. Di bawah kolong tempat tdiru, jangan kaget kalau menemukan wajan yang retak bawahnya. Dalam keranjang tertentu, bertumpuk keset handuk yang saya beli dalam berbagai kesempatan. Kadang kalau melihat keset itu satu per satu, saya baru ingat pernah membelinya. Begitu lama menghilang dari peredaran, saya sampai lupa memiliki barang tersebut. Ahahaha.
Ini belum bicara tentang isi lemari besar. Cangkir dan gelas beling, piring-piring tebal, teko, mangkuk, anteng dipajang di situ. Kapan dipakai? Sebagian besar bisa setahun sekali saja, atau bahkan tidak dikeluarkan karena tersembunyi.Kesukaan menyimpan barang yang dianggap bagus seringkali bertentangan dengan prinsip saya dan Mas Budi.
Contohnya, kejadian di bawah ini.
Dalam satu kesempatan, Mas Budi mendapat hadiah satu set peralatan makan minum berbahan porselen. Cukup tebal dan berat. Warna birunya elegan dan anggun.
"Dibuka, simpan di rak piring. Sayang kalau gak dipakai. Si pemberi hadiah biar dapat pahalanya saat kita gunakan,"perintah Mas Budi.
Tentu saya siap grak, laksanakan! Empat buah piring dan dua mug biru ganteng itu saya simpan di rak piring di dapur.
Tak sampai tiga hari kemudian, barang-barang itu lenyap dari rak piring. Tanpa ragu, saya bertanya pada Nenek. Dengan tanpa rasa bersalah, Nenek menunjuk lemari, Saya keluarkan dengan santai sambil berkata, "Dipakai saja Nek, pemberinya supaya dapat pahala ketika pemberiannya dimanfaatkan."
Kembali ke unggahan cerita di atas.
Ada komentar pemirsa yang membagikan pengalaman didiamkan sang Ibu karena membuang barang-barang tidak terpakai. Saya membaca satu per satu sambil sesekali tersenyum, terenyuh, dan tersindir. Sebagian mirip sekali dengan pengalaman saya. Sepertinya ini masalah universal di Indonesia. Entah di luar negeri, adakah konflik serupa terjadi?
Akibat seringnya kejadian begini, setiap ada barang hilang, Nenek otomatis akan menuduh saya sebagai pelaku. "Pasti dibuang Umi!"
Contoh, suatu pagi, telpon berdering di saat saya mengajar. Begitu diangkat, terdengar nada tinggi suara Nenek: "Dibuang ke mana wajan Nenek yang ada di kursi?"
Saya melongo. Sedari pagi, saya lintang pukang ke pasar, menyiapkan sarapan, menata meja, mandi, hingga berangkat mengajar. Tidak sekalipun saya melihat wajan di kursi. Sanggahan saya sama sekali tidak memuaskan Nenek. Dengan penuh kemarahan, telepon ditutup.
Ketika pulang, tak ada drama. Saya curiga. Biasanya jika Nenek diam, itu berarti sudah ada jawaban. Saya tanya masalah wajan tadi, di mana ketemunya. Tidak perlu ditanya apakah sudah ketemu atau tidak, sebab saya sudah hafal pola sikap Nenek. Jika Nenek diam, berarti masalah selesai.
Benar saja, Nenek menjawab dengan acuh tak acuh, "Di bawah tempat tidur, di kamar."
Siapa yang simpan? Tentu Nenek. Karena setelah semua berangkat, yang ada di rumah induk cuma Nenek saja.
Maka, membaca berbagai komentar pemirsa yang membagikan pengalaman tentang hobi menumpuk barang tak terpakai oleh Ibu alias Nenek, melegakan saya, Saya belajar banyak dari saran bijaksana di sana. Minimal, saya tidak merasa sendiri. Banyak teman senasib.
Semoga bisa lebih sabar menghadapinya nanti, sepulang Nenek dari Balikpapan.
Allahummaa aamiin.
Ai: hahaha.. Sy kadang jadi si nenek (nimbun barang) tp jg jd bunda 🤣 (semua2 diberesin dn souvenir2 dibuka, dipakai)
BalasHapusHihihi. Muter terus, dong. Kumpulkan, tumpuk, lalu buang!
HapusAh iyaa, Ibu saya sudah menjadi nenek juga :) sehat selalu Ibu kuuu.
BalasHapusTernyata ini masalah universal yaa.. saya sering melakukan OTT kalau pulang hehe. Buka lemari, buka bawah kasur, buka ini dan itu. Alhamdulillah, saya bersyukur tidak pernah ada drama tiba tiba didiamkan atau dimarahin hehe. Tapi ya gitu OTT akan terus berlanjut.
waah, Ibu tidak marah kalau barang-barang dibuang, ya Kak Arum. Asik deh, beres-beres jadi loss...
Hapus